Caption blog

.........................................................

Minggu, April 14, 2013

CU Makin Nyata Entaskan Kemiskinan

Kehadiran koperasi, termasuk seperti credit union, terbukti mampu membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. “Koperasi secara nyata berkontribusi dalam peningkatan perekonomian masyarakat. Apalagi koperasi terbukti tahan banting dan mampu menghadapi badai krisis ekonomi,”ujar DR. HM. Suryo Respationo, Wakil Gubernur Kepulauan Riau dalam kata sambutannya pada pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Pusat Koperasi Kredit Badan Kordinasi Credit Union Kalimantan (Puskopdit BKCUK) di Hotel Pacific Palace, Batam, Kepulauan Riau (12/4).

Pendapat senada disampaikan Ignasius IK, Kadis Koperasi dan UKM Kalbar. “BKCUK adalah mitra Pemerintah Kalbar dalam mengentaskan kemiskinan. Tidak bisa dibantah, CU adalah penggerak perekonomian daerah,”ujarnya. Pemerintah Kalimantan Barat, tambah Ignasius, berharap agar insan-insan credit union mendirikan koperasi-koperasi sektor riil agar semakin banyak lagi menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Hasil nyata gerakan credit union dalam mengentaskan kemiskinan dapat dilihat dari semakin banyaknya orang yang menjadi anggota CU. “Dengan makin banyaknya orang bergabung CU berarti orang merasakan manfaat ber-CU,”jelas Marselus Sunardi, Ketua Puskopdit BKCUK. Sebab menurut Sunardi CU bukan semata-mata bisnis keuangan tetapi CU adalah sekolah kehidupan dimana anggotanya dituntut selalu solider, saling berbagi, bergotong-royong mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. “Tidaklah baik kalau kita sejahtera sendiri saja,”jelasnya.

Menurut laporan pertanggungjawaban pengurus BKCUK, dalam tahun buku 2012 total anggota individu 380.700 orang; anggota CU primer 45 CU; asset Rp.4,1 triliun; pinjaman beredar Rp.3,1 triliun; dana cadangan Rp.118 miliar; saham anggota Rp 447 miliar; simpanan non saham Rp 3,1 triliun; pendapatan Rp 569 miliar; biaya Rp 542 miliar; sisa hasil usaha Rp 26 miliar.

BKCUK patut berbangga karena dari 100 koperasi terbesar di Indonesia versi Kementerian Koperasi dan UKM ada 14 CU dalam naungan BKCUK. Dalam tahun  berikutnya BKCUK berharap makin banyak CU yang masuk 100 koperasi besar. Secara nasional BKCUK bertekad mensukseskan target nasional gerakan CU yakni 10 juta anggota dengan asset 100 triliun pada tahun 2020.

Menurut Frans Laten, General Manajer BKCUK, perkembangan pesat CU-CU dalam naungan BKCUK tersebut karena kerja keras pengurus, pengawas, manajemen; pelatihan-pelatihan keterampilan; melakukan invonasi; penerapan teknologi serta kerja sama yang baik antara CU primer dan sekunder.

Romanus Woga, Ketua Induk Koperasi Kredit Indonesia (Inkopdit) memberikan apresiasi yang tinggi kepada Puskopdit BKCUK yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan gerakan CU di Indonesia. “Puskopdit BKCUK adalah koperasi kredit sekunder terbesar di Indonesia. Semoga makin berkembang agar makin banyak orang sejahtera, semakin banyak rakyat miskin yang dientaskan,”papar Romanus dalam sambutannya pada pembukaan RAT. Romanus meminta gerakan CU agar menerapkan unitas, karitas dan veritas. Yakni CU harus bersatu dan bekerja sama, melayani anggota, dan berkeadilan.

Sebelum RAT yang bertemakan “Memperkokoh gerakan credit union Kalimantan berbasis komunitas menuju credit union sehat yang berkelanjutan” ini dilaksanakan lokakarya tentang penguatan kelembagaan, perempuan, pemuda dan IT, revisi anggaran dasar dan rumah tangga, serta sharing pengalaman. Sharing pengalaman menampilkan keberhasilan tiga CU besar dari Kalbar (CU Khatulistiwa Bakti), Kalteng (CU Betang Asi) dan Sulawesi Selatan (CU Sauan Sibarung).

RAT diikuti 400 orang peserta dan peninjau. Peserta adalah tiga orang utusan dari 45 CU (pengurus, pengawas, manajemen). Peninjau adalah calon anggota baru, unsur pengurus, pengawas dan manajemen CU, perwakilan dari Puskopdit Borneo, Univeritas Gunadharma, Universitas Putra Batam dan lainnya.

Secara umum program kerja pengurus tahun buku 2012 tercapai 75 persen dan menurut analisis PEARLS dikategorikan Sehat. Kinerja Pengurus BKCUK tahun buku 2012 selain diawasi dan dinilai pengawas internal tetapi juga diaudit oleh auditor independen dari kantor akuntan publik Sardjono Budi Sudahrnoto dan diaudit Indkopdit. Menurut ketiga lembaga pengawas/audit ini, selama tahun buku 2012 secara umum Puskopdit BKCUK dalam kondisi Sehat. “Menurut pendapat kami laporan keuangan Puskopdit BKCUK disajikan secara wajar dalam semua material, posisi keuangan Puskopdit BKCUK tanggal 31 Desember 2012 dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun 2012 sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP),”tulis auditor independen dalam laporan tertulisnya.


BKCUK adalah satu-satunya credit union sekunder di Indonesia yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia. Yakni di Kalimantan Barat, Timur, Tengah, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT. CU-CU tersebut adalah: Khatulistiwa Bakti, Stella Maris, Kingmi, Usaha Kita, Bonaventura, Tilung Jaya, Sabhang Utung, Pancur Dangeri, Kusapa, Jembatan Kasih, Filosofi Petani Panncur Kasih, Manteare, Betang Asi, Almendo, Daya Lestari, Mambuin, Sempekat Ningkah Olo, Sinar Saron, Femung Pebaya, Mototabian, Remaung Kecubung, Kasih Sejahtera, Sumber Rejeki, Mekar Kasih, Hati Amboina, Ndar Sesepok, Sauan Sibarrung, Likku Aba, Bahtera Sejahtera, Gerbang Kasih. Dalam RAT kali ini diterima dua CU baru sebagai anggota BKCUK. Yakni CU Muara Kasih (Pontianak) dan CUMI Pelita Kasih (Jakarta). Kalbar patut berbangga karena CU model Kalimantan ini diakui keberhasilannya dan dicontoh daerah lain.

Dalam misa penutupan RAT Uskup Pangkal Pinang Mgr.Hilarius Moa Nurak,SVD berpesan kepada pengurus, pengawas dan manajemen credit union agar tetap memprioritaskan menolong warga, komunitas basis agar mampu bangkit dari kemiskinannya. “Credit Union adalah bentuk nyata karya kita untuk kemanusiaan yang universal tanpa sekat-sekat perbedaan agama, suku, ras maupun golongan,”pesan Mgr.Hilarius.

Di berbagai tempat kehadiran CU terbukti mampu mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik. Semoga semakin banyak orang yang menjadi anggota CU.***
  
Edi V.Petebang, dari Batam,Kepri

Rabu, Oktober 31, 2012

Menganjan, a redemption ritual

The Jakarta Post Paper Edition | Page: 21 [www.thejakartapost.com]

“If you wish to maintain your offspring, go to Arut, Central Kalimantan, in the direction of the sunrise. Behead Patih Arut [the communal chief], bring his whole and fresh head here in place of you for menganjan [sacrificial ritual],” village elder Ukot Bebodah ordered two brothers, Sesulor and Sesileh.

This legend is always remembered by the Dayak Pesaguan ethnic group living by Pesaguan River and its tributaries in Ketapang regency, West Kalimantan, when conducting the menganjan ritual to usher spirits of the dead to heaven, formerly with human sacrifice.

“In this ritual, the community of Dayak Pesaguan is reminded of the sacrifice of the Tuluyan people in the group, who used to serve as offerings in menganjan ceremonies,” said Gemalo Nius, 55, the communal chief of Serengkah Kanan village.

Menganjan is either observed three or four days after someone’s death, or several years later. A rectangular building for the grave (tambak) and a jar for ashes is placed on a pole (sandung) and readied. “It’s a manifestation of victory over doom, so that the atmosphere of grief should be turned into joy. After menganjan even the bereaved can get married again,” explained Nius, who led the ritual.

The latest menganjan was held recently in Serengkah Kanan, Tumbang Titi district, Ketapang regency, 450 kilometers south of Pontianak city. It was for four people: Gando Bakah Berandong Marsianus Silan, Salesta Ita, Petrus and Dalmasius Itan. Silan was former Serengkah Kanan communal chief for nine years and the others were his children. Thousands of people from nine villages were invited.

It began with the cutting of garong wood by 20 people representing the invitees. After a bout of gun fire and firecracker burning as well as the yells of dozens of guests, four pairs of dancers greeted and guided them to the place of ceremonies, where they were treated to a traditional alcoholic drink (tuak) and betel leaves.

Menumang kepala is one of the sacred rites of menganjan, which has 14 ceremonies. It means the burning of the human head on a three-legged stove, which used to be practiced when the beheading custom or pengayauan prevailed, as a symbol of victory. Today the object to be burned is a young coconut.

After the burning, the coconut replacing the head was fed chicken, cold ash and cold rice. Then the fruit was holed to drain its water and fill it with tuak, with which all those present were served. Following the drink, the coconut was wrapped in yellow bark and carried in a dance with a gamelan accompaniment in a quick rhythm.

The “head” burning and dance was followed by the ritual leader’s narration of the story of Sesulor and Sesileh. The two brothers were descendants of the Tuluyan people, who were destined to be sacrificed in menganjan ceremonies, after being tortured and killed with traditional weapons.

In order to end this fate, Ukot Kebodah, the founder of Serengkah village, ordered Sesulor and Sesileh to behead Arut’s communal chief in Central Kalimantan. This Arut chief had supernatural powers and three faces. His head had to be delivered intact because Ukot Kebodah wished to see how the faces looked. The brothers agreed and managed to decapitate the chief, but had to dry his head to prevent decay due to their week-long walk back home.

In Serengkah, both were welcomed but as the head was disfigured, they were even accused of stealing another head from the grave. Sesulor and Sesileh were sacrificed. Yet they left a message before dying: “If a keratio tree grows at the foot of their grave and a kumpang tree at the head, it means we did bring home the real head.”

Three days after their burial, Pesaguan people were totally flabbergasted to find the two trees right at the places designated by Sesulor and Sesileh. The Pesaguan community finally acknowledged the skull they had brought as the Arut chief’s head. Since then, pigs and chickens have been offered instead of human heads.

According to Gemalo Nius, as a token of appreciation for Tuluyan descendants, when they die they are allowed to use jars for their ashes, which are supported by 3-4 meter wooden poles, representing their graves or sandung. This practice is called menyandung.

“Menganjan thus implies a reminder for Pesaguan people of the sacrifice of Tuluyan members, and particularly with menyandung, it’s a kind of redemption of the Pesaguan group from the sin against Tuluyan offspring,” noted Nius.

Cutting a jarau tree was the other interesting rite awaited by children, because its fruits would be distributed. The tree was not actually felled, but its stem with the fruits on it was laid down after tree-felling mantras were read out. The fruits were then given to children and other people, and the drink (tuak) put on a pole was consumed by guests.

Menganjan was closed with pepiring beras, a farewell ceremony in which the host expressed gratitude for the presence and assistance of all guests. “We are satisfied and happy for having organized the ritual of respect for our father and siblings. We believe they are now also happily in Sebayan Tujuh Serugo Dalam [heaven],” concluded Sunyan, the late Silan’s son.

Gradually but surely, this ritual will be left behind because of the big costs involved and the increasing difficulty of supplying the necessities. The recent menganjan for Marsianus Silan, according to Sunyan, needed 25 pigs, 200 chickens, hundreds of kilos of rice and vegetables, and 500 liters of tuak and arrack.

Gemalo Nius added dozens of kinds of fruits were also needed by the ritual besides vegetables. “Another requirement is now also even harder to find, which is ruai — Kalimantan’s typical bird with beautiful feathers. It is inseparable from the shrinking forests due denudation for oil palm estates, timber estates and mining projects,” he remarked.

In fact, Nius indicated, the culture of Pesaguan was influenced by Javanese culture as well as Hindu, Buddhist, Islamic and Catholic religions. In 1918, missionaries set up a Catholic school in Serengkah. The religion has had an important role in the development of Dayak Pesaguan culture from the past right up to the present.

The biggest challenges being faced today are the aggressive plans for the entry of several oil palm estates and timber estate companies into Dayak Pesaguan villages. While there are the pros and cons of such enterprises, the big floods that caused serious destruction in the hamlets of Beringin and Batu Beransah are believed to have resulted from deforestation around Beringin in the uppermost part of the Pesaguan River, to be replaced with sengon timber estates.*

Kamis, September 20, 2012

Menganjan, Penebusan Dayak Pesaguan

“Kalau kalian mau punya keturunan, pergilah mengayau ke Arut, Kalimantan Tengah, ke arah matahari terbit. Potong kepala Patih Arut. Bawa kepalanya utuh dan segar sebagai ganti kalian untuk tumbal menganjan,”perintah Ukat Bebodah kepada Sesulor dan Sesileh.
Memotong garong

Peristiwa ini selalu dikenang masyarakat Dayak Pesaguan yang menghuni daerah aliran sungai Pesaguan dan anak-anaknya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dalam setiap ritual menganjan. Menganjan adalah ritual agar arwah masuk ke serugo tujoh sebayan dalam (surga, bahasa Pesaguan). “Dalam ritual menganjan, masyarakat Dayak Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan yang selalu dijadikan tumbal dalam setiap ritual menganjan,”jelas Gemalo Nius, kepala adat kampung Serengkah Kanan (55 tahun).

Menganjan dilakukan pada saat kematian atau beberapa tahun kemudian. Jika saat kematian, maka menganjan dilakukan jika pembuatan sandung atau tambak telah selesai. Artinya butuh waktu   tiga atau empat hari. Tambak adalah bangunan bujur sangkar dengan ukiran motif di dindingnya yang diletakkan di pusara makam dan di bagian atasnya diberi atap.  Sandung tempat abu jenasah yang dibakar. Abu ini disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang belian berdiameter 20-30cm yang berukiran setinggi 3-4 meter.

“Secara sederhana makna menganjan adalah ungkapan kemenangan atas maut. Dengan menganjan dimaksudkan agar suasana duka dalam masa berkabung diganti dengan suasana riang gembira. Menganjan juga untuk melepaskan semacam ikatan yang disebut pantang pamali.  Setelah menganjan orang yang berkabung boleh bersukaria, termasuk boleh menikah lagi,”jelas Nius yang memimpin seluruh prosesi menganjan.

Membersihkan "kepala"
Menurut keyakinan orang Dayak Pesaguan arwah keluarga yang meninggal tersebut dapat masuk ke sebayan tujoh serugo dalam, ke hujong ke penawaian, ke siu' ke pendondaman, be'arai cetohu bayu, benasi cetohu basi, beboras cemenutu, bejolu cebekarang. Artinya tempat di mana air tidak membusuk, nasi tidak pernah basi, beras tidak perlu menumbuk, dapat lauk-pauk tidak perlu berburu; suatu tempat yang digambarkan sebagai tempat yang abadi, kebahagiaan kekal.

Ritual menganjan yang terbaru terjadi di Kampung Serengkah Kanan, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, 450 km Selatan Kota Pontianak tanggal 6-8 Juli 2012. Ada empat orang yang dikanjakan, yakni almarhum Gando Bakah Berandong Marsianus Silan, Salesta Ita, Petrus dan Dalmasius Itan. Silan adalah kepala adat kampung Serengkah Kanan selama sembilan tahun; sedangkan Ita, Petrus dan Itan adalah anaknya. Tuan rumah mengundang warga dari 9 kampung. Karena itulah, ribuan orang berkumpul di sana. Penulis mengikuti seluruh prosesi ritual ini.

Ritual inti menganjan dimulai dengan ritual memotong batang kayu garong. Sebanyak 20 orang wakil ansang (sebutan untuk tamu) memotong kayu garung yang dipasang melintang di tengah jalan di ujung kampong. Dentuman empat laras senapan lantak, letusan puluhan petasan, pekikan puluhan ansang menandai putusnya tiang pembatas ansang dan tuan rumah itu. Empat pasang penari datang menjemput ansang dan mengiringnya sampai ke tempat acara yang dinamakan tetarok. Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang dan tuak, minuman beralkohol sekitar 25% yang terbuat dari beras ketan diberi ragi.

Setelah para tamu (ansang) diterima di tetarok, dilaksanakan lagi sejumlah ritual menganjan. Sebelum tamu datang juga telah dilaksanakan serangkaian ritual. Ada 14 ritual yang dilaksanakan selama proses menganjan. Yakni (1). memberi makan tiang garong (2). membersihkan kepala kayau (3).pemberi makan roh-roh (4). dongeng asal-usul kanjan (5). penyerahan jarau (6). memotong garong (7). menyerahkan pelelawat (8).mengambil salib ke kuburan (9). memutus bulen (10). menebang jarau (11). mengembalikan salib ke kuburan (12). memotong kasau (13). bepalit parang beliung (14). piring beras.

Dari 14 prosesi ritual tersebut, yang paling menarik perhatian warga dan paling sakral adalah ritual  menumang kepala, sangan sesulor sesileh, memotong garong dan memantang jarau.

Menumang kepala adalah membakar kepala di atas tungku tumang (tungku berkaki tiga). Jaman pengayauan dulu, yang dibakar kepala manusia hasil mengayau. Meskipun orang Dayak Pesaguan tidak ada tradisi menga­yau, namun jika ada pengayau yang menyerang maka diadakan perlawanan untuk mem­bela diri. Kepala kayau merupakan simbol kemenangan. Kini karena tidak ada pengayauan lagi, maka yang dibakar buah kelapa hijau yang muda.

Setelah ditumang, buah kelapa pengganti kepala itu diberi makan dengan seekor ayam, abu dingin, nasi dingin. Selanjutnya buah kelapa itu diberi lobang, airnya dibuang diganti dengan tuak. Tuak di dalam batok kelapa ini diminum secara bergiliran kepada semua yang hadir.

Selesai dipakai minum, kelapa muda ini dibung­kus dengan kain dari kulit kayu berwarna kuning dan dipegang sambil dibawa menari. Tarian ini disebut tari menimang kepala. Tarian ini diiringi musik teranjak, yakni gamalan cepat dan bersemangat.

Pengorbanan Orang Tuluyan
Setelah menumang kepala, pemimpin ritual menceritakan dongeng sesulor sesileh. Di dalam dongeng inilah kita bisa mengetahui makna menganjan. Konon, dulu ada dua bersaudara bernama Sesulor dan Sesileh. Mereka adalah orang keturunan tuluyan. Orang tuluyan adalah kelompok dalam masyarakat Dayak Pesaguan yang ditakdirkan untuk dijadikan korban dalam setiap upacara menganjan. Mereka disiksa dengan tombak dan mandau, lalu dibunuh dan menjadi tumbal pada dasar tiang sandung atau tambak.
Keluarga besar almarhum berdoa di depan salib

Untuk menghapus takdir ini, pada jaman Ukot Kebodah (pendiri kampung Serengkah), Sesulor dan Sesileh ini diminta mengayau kepala adat kampung Arut, Kalteng. Konon kepala adat Arut ini sangat sakti dan bermuka tiga. Kepala itu harus utuh karena Ukot Kebodah mau melihat muka tiga tersebut. Dua bersaudara inipun setuju dan berhasil mengayau kepala adat Arut. Karena jarak Kalteng-Serengkah jauh, sekitar seminggu jalan hutan, agar tidak busuk, kepala itu dikuliti dan dikeringkan.

Sesampai di kampung Serengkah, keduanya disambut seluruh warga. Namun sayang, karena kepalanya tidak utuh, keduanya malah dituduh mencuri kepala orang dari pekuburan. Sesulor dan Sesileh tetap dikorbankan. Sebelum dibunuh mereka berpesan, "Jika di kaki kuburan tumbuh pohon keriato dan di kepala tumbuh pohon kumpang, berarti yang kami bawa memang benar,”ujar mereka.

Tiga hari setelah dibunuh dan dikubur, orang Pesaguan kaget bukan main karena di atas pusara Sesulor Sesileh tumbuh pohon keriata dan kumpang. Masyarakat Pesaguan pun akhirnya mengakui bahwa tengkorak kepala yanag dibawa Sesulor Sesileh adalah kepala adat Arut. Untuk mentaati perjanjian dengan Sesulor Sesileh, maka sejak itulah orang Pesaguan tidak lagi mengorbankan kepala manusia dalam ritual menganjan. Sebagai gantinya adalah babi dan ayam.

Menurut Gemalo Nius, sebagai wujud penghargaan orang Pesaguan kepada keturunan orang tuluyan, maka jika mereka meninggal akan disandung. Sandung adalah kuburan untuk abu jenasah. Jasad dibakar, lalu abunya disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang kayu belian setinggi 3-4 meter.

Menurut Gemalo Nius, Orang Tuluyan ini bukanlah budak/kuli, tetapi orang yang memang dari awal ditakdirkan untuk dikorbankan jika ada ritual menganjan. Untuk mengubah nasib, di beberapa kampung Orang Tuluyan ini melarikan diri/ pindah ke daerah lain. Misalnya, orang Tuluyan dari Kalteng yang lari dan membuka kampung Beringin, orang Tuluyan di Lemandau, Kalteng yang melarikan diri dan kini menjadi penduduk Kampung Petobang; orang Tuluyan dari Serengkah lari ke daerah Kengkubang (Jelayan-Natai Panjang), Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan sekitarnya. Itulah sebabnya di Jelayan, Natai Panjang, Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan kampung lainnya ada ritual menyandung orang mati.  

“Dengan ritual menganjan, orang Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan. Menganjan, terutama menyandung itu adalah semacam penebusan dosa-dosa orang Pesaguan kepada Orang Tuluyan,”jelas Nius.

Memotong Garong, menebang jarau
Untuk menyambut tamu maka diadakan ritual khusus yang disebut  memotong garong. Garong adalah nama jenis kayu yang batangnya ringan jika kering dan bisa dibuat rakit. Batang garong ini dipasang melintang di pintu gerbang khusus yang dibuat, sekitar 100 meter dari tempat acara.

Sebelum masuk ke tempat acara, seluruh tamu disambut. Empat pasang penari datang menjemput ansang, sebutan bagi para tamu yang dijemput. Mula-mula seorang wakil keluarga yang menjemput akan bertanya kepada ansang tersebut. Bagian ini seru sekali karena antara tamu dan tuan rumah saling berbalasan dengan nada bicara seperti orang marah. Sambil bicara, tetamu disuguhi minum tuak dalam bambu yang disebut lumpang.
bedansai menganjan

Garong kemudian dipotong oleh ansang secara bergantian. Ada sekitar 20 orang yang memotong garung. Yang memotong terakhir adalah domong adat ansang yang dituakan. Setelah garung putus, para tamu undangan diiringi oleh para penyambut berjalan menuju natar dan diterima di tetaruk. Musik kanjan terus menerus ditabuh. Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang, minuman tuak dan makan.

Ritual berikutnya adalah menebang jarau. Inilah acara yang ditunggu-tunggu anak-anak karena mereka akan diberi buah-buah jarau. Meski sebutannya menebang jarau, namun sesungguhnya tidak ditebang benaran. Batang jarau dan buah-buahnya yang semula berdiri, akan dirobohkan setelah sebelumnya dibacakan mantra-mantra menebang jarau. Buahnya dikumpulkan—dan sebagian diberikan kepada anak-anak maupun orang yang dekatnya—tuak dalam tiang jarau akan diminumkan kepada tamu ataupun orang yang menebang jarau. Buah jarau ini kemudian akan dibagi.

Ada dua jenis jarau, jarau pemalian (dari tuan rumah) dan jarau dari tamu. Jarau pemalian ini lebih besar dan lebih banyak buahnya. Di jarau pemalian, pada bagian bawahnya ada tempayan yang juga diisi tuak. Banyaknya jarau tergantung terkenal tidaknya orang yang dikanjankan; bisa mencapai ratusan batang.

Menebang jarau
Menurut Gemalo Nius, adat jarau bukan merupakan adat asli Pesaguan tetapi dibeli dari Beringin. Orang Beringin membelinya secara adat dari Dayak Delang di Kalimantan Tengah karena jarak yang dekat dan hubungan yang baik antara orang Beringin dan OrangDelang. Adatnya adalah: sebuah tajau penuh tuak, piring delapan keping, babi seekor. “Selain jarau, adat yang dibeli dari Kalteng adalah menganjan di rumah. Adat menganjan asli orang Pesaguan di tanah, tidak di rumah,”jelas Nius.  

Menganjan ditutup dengan adat pepiring beras. Yakni acara perpisahan dan pemberian tanda ucapan terima kasih atas semua ke­hadiran serta bantuan dari para tamu. “Harapannya rasa kepuasan dan kebahagian memenuhi kehidupan kami keluarga besar Bapak dan adik-adik yang dikanjanan. Kami puas dan bahagia karena telah menyelenggarakan acara penghormatan kepada Bapak dan adik-adik. Kami percaya mereka sudah ber­bahagia di Sebayan Tujuh Serugo Dalam,”jelas Sunyan, anak almarhum Silan.

Selama pelaksanaan 14 ritual menganjan tersebut musik gamalan kanjan tidak pernah berhenti. Puluhan orang, umumnya pemuda, secara bergiliran selama tiga hari siang dan malam menabuh gamalan. Ada tiga jenis gamalan, yakni gamalan biasa, gamalan kanjan dan gamalan tipaq. Dalam masyarakat Dayak umumnya, gamalan tipaq hanya dimainkan kalau ada kematian.

Terancam punah
Masyarakat Dayak Pesaguan mayoritas bermukim di pinggir Sungai Pesaguan dan anak-anak sungainya. Berdasarkan buku Sujarni Aloy, dkk. “Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku Dan Bahasa Dayak Di Kalimantan Barat’, Institut Dayakologi (2008), ada 7 kelompok Pesaguan. Yaitu Batu Tajam, Kekura’, Kengkubang, Marau, Pesaguan Hulu, Pesaguan Kanan, Sepauhan. Mereka bermukim di wilayah 3 kecamatan, yakni Tumbang Titi, Sungai Melayu dan Jelai Hulu.

Pelan tapi pasti ritual menganjan ini tergerus jaman dan makin langka. Selain karena biayanya mahal, juga bahan pendukung ritual ini semakin sulit dicari karena isi alam makin habis. Mahal karena dalam setiap pelaksanaan ritual menganjan yang besar, seperti menganjan Marsianus Silan (6-8/7/2012) menurut Sunyan, anak tertua almarhum, diperlukan 25 ekor babi, 200 ekor ayam, ratusan kilo beras, ratusan kilo sayur dan 500 liter tuak dan arak; belum biaya lainnya. 

Bahan yang diperlulan untuk ritual menganjan menurut Gemalo Nius terdiri dari puluhan jenis pohon buah-buahan, sayuran dan tanam tumbuh lainnya. “Sebagian bahan itu kini makin sulit dicari, apalagi seperti bulu burung ruai—burung khas Kalimantan yang indah bulunya. Ini tidak terlepas dari makin menyempitnya areal perladangan dan hutan-hutan karena dibabat untuk areal perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri dan pertambangan,”jelasnya.

Menurut Nius, kebudayaan Pesaguan dipengaruhi budaya Jawa, agama Hindu, Budha, Islam dan Katolik. Tahun 1918 misionaris Kapusin mulai mendirikan sekolah Katolik di Serengkah. Agama Katolik mempunyai peranan penting dalam perkembangan manusia dan kebudayaa Dayak Pesaguan era dulu dan kini.

Hari-hari ini tantangan terbesar adalah gencar sekali rencana masuknya sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) di kampung-kampung Dayak Pesaguan. Ada yang menerima, ada yang dengan tegas menolak. Banjir bandang yang memutuskan jembatan di akibat kampung Beringin dan Batu Beransah dan merendam rumah, kebun, ternak warga diyakini warga akibat habisnya hutan di sekitar kampung Beringin (kampung paling udik Sungai Pesaguan) dan diganti dengan kebun sengon (HTI).    

Edi V.Petebang, Institut Dayakologi. Boleh mengutip artikel ini setelah mendapat izin penulis.